Rabu, 06 Februari 2013

Kereta api sudah menjadi salah satu sarana transportasi yang vital bagi masyarakat baik untuk penghubung antar kota maupun dalam kota. Dalam hal ini, Stasiun Kereta Api memiliki peran yang tak kalah penting dari fungsi kereta api itu sendiri. Fungsi Stasiun Kereta Api tidak hanya sebagai halte pemberhentian belaka melainkan sebagai fasilitas 'transit' atau tempat kegiatan datang dan pergi para penumpang, sehingga bangunan stasiun menjadi sarana penting pada setiap kota yang dilalui perjalanan kereta api.
Banyaknya kota-kota di Indonesia yang dilalui jalur kereta api diikuti pula dengan pembangunan stasiun-stasiun dengan rancangan arsitektur yang menunjukkan berbagai era sejak jaman pemerintah Hindia Belanda hingga saat ini. Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, bangunan stasiun kereta api menjadi salah satu fasilitas publik dan aset bangsa yang perlu dijaga dan dilestarikan.
 Ikon Daerah Operasi / Divisi Regional Deskripsi Nama Stasiun Heritage
Daerah Operasional 1 Jakarta Daerah Operasi 1 Jakarta merupakan Daerah Operasi dengan wilayah yang terbentang dari stasiun Merak (barat) di Provinsi Banten sampai dengan Stasiun Cikampek (timur) dan stasiun Sukabumi (selatan) di Provinsi Jawa Barat melintasi stasiun–stasiun di wilayah Provinsi DKI Jakarta Jakarta Kota, Tanjung Priuk, Pasar Senen, Jatinegara, Bogor, Serang, Rangkasbitung, Sukabumi, Depok Baru, Depok Lama, Pondok Cina, Citayam, Bojonggede, Cilebut, Lenteng Agung, Tanjung Barat, Pasar Minggu, Duren Kalibata, Pasar Minggu, Duren Kalibata, Manggarai, Tanah Abang, Gambir, Tangerang, Duri, Angke, Rawa Buaya, Poris, Sudimara, Serpong, Cisauk, Parungpanjang
st_bandung_icon Daerah Operasional 2 Bandung Daerah Operasi 2 Bandung merupakan Daerah Operasi dengan wilayah yang terbentang dari stasiun Cibungur (utara)  sampai dengan Stasiun Cipari (timur) dan stasiun Ranji (barat) melintasi stasiun–stasiun di wilayah Provinsi Jawa Barat bagian selatan Bandung, Cibatu, Banjar, Lampegan, Padalarang
Daerah Operasional 3 Cirebon Daerah Operasi 3 Cirebon merupakan Daerah Operasi dengan wilayah yang terbentang dari stasiun Tanjungrasa (barat)  sampai dengan stasiun Brebes (timur) dan stasiun Songgom (selatan) di Provinsi Jawa Tengah melintasi stasiun–stasiun di wilayah Provinsi Jawa Barat bagian utara Cirebon, Jatibarang
Daerah Operasional 4 Semarang Daerah Operasi 4 Semarang merupakan Daerah Operasi dengan wilayah yang terbentang dari stasiun Tegal (barat) sampai dengan stasiun Kalitidu (timur) di Provinsi Jawa Timur dan stasiun Gundih (selatan) melintasi stasiun–stasiun di wilayah Provinsi Jawa Tengah bagian utara Semarang Tawang, Semarang Poncol, Ambarawa, Pekalongan, Tanggung, Kedung Jati, Lasem, Tegal, Gundih, Brumbung
Daerah Operasional 5 Purwokerto Daerah Operasi 5 Purwokerto merupakan Daerah Operasi dengan wilayah yang terbentang dari stasiun Prupuk (utara) sampai dengan stasiun Purworejo (timur), stasiun Sidareja (barat) dan stasiun Cilacap (selatan) melintasi stasiun–stasiun di wilayah Provinsi Jawa Tengah bagian selatan Cilacap, Purworejo, Purwokerto, Kroya
Daerah Operasional 6 Yogyakarta Daerah Operasi 6 Yogyakarta merupakan Daerah Operasi dengan wilayah yang terbentang dari stasiun Montelan (barat) sampai dengan stasiun Kedungbanteng (timur) di Provinsi Jawa Timur, stasiun Monggot (utara) dan stasiun Wonogiri (selatan) melintasi stasiun–stasiun di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Yogyakarta, Solo Balapan, Solo Jebres, Maguwo, Lempuyangan
Daerah Operasional 7 Madiun Daerah Operasi 7 Madiun merupakan Daerah Operasi dengan wilayah yang terbentang dari stasiun Walikukun (barat) sampai dengan stasiun Curahmalang (timur) dan stasiun Rejotangan (selatan) melintasi stasiun–stasiun di wilayah Provinsi Jawa Timur bagian selatan Madiun, Kertosono, Tulung Agung
Daerah Operasional 8 Surabaya Daerah Operasi 8 Surabaya merupakan Daerah Operasi dengan wilayah yang terbentang dari stasiun Bojonegoro (utara) sampai dengan stasiun Blitar (selatan) dan stasiun Mojokerto (barat) melintasi stasiun–stasiun di wilayah Provinsi Jawa Timur bagian utara Surabaya Gubeng, Malang Kota Lama, Blitar, Bangil
Daerah Operasional 9 Jember Daerah Operasi 9 Jember merupakan Daerah Operasi dengan wilayah yang terbentang dari stasiun Bangil (barat) sampai dengan stasiun Banyuwangi (timur) melintasi stasiun–stasiun di wilayah Provinsi Jawa Timur bagian timur Jember, Banyuwangi, Pasuruan, Probolinggo

Singgah di Stasiun Kroya kita akan disuguhkan bel stasiun yang berbunyi tak lazim, berbeda dari stasiun-stasiun pada umumnya. Apalagi didengarkan ketika malam hari, entah seperti ada suasana mistis yang membuat bulu kuduk bergidik namun bukan rasa takut yang muncul melainkan suasana melankolis yang bisa membuat kita rindu untuk kembali singgah di stasiun ini.

Inilah Stasiun kroya, Stasiun yang berada di selatan Jawa Tengah tepatnya di Kabupaten Cilacap,  dibangun pada zaman belanda pada abad ke-19. Stasiun Kroya berada pada wilayah daerah Operasi V Purwokerto.


Stasiun Kroya berada di dataran rendah dengan ketinggian elevasi hanya 11m diatas permukaan laut (atau biasa disingkat mdpl). saya awalnya tidak sadar dan menganggap stasiun Kroya berada tidak jauh dari bibir pantai namun ternyata setelah melihat di Peta Google Earth jarak dari stasiun ke bibir pantai sejauh 7,5 km, bila dibandingkan dengan daerah lain seperti kota Probolinggo, jarak 7,5km dari bibir pantai sudah mencapai elevasi >20mdpl. Dengan analisis kasar dan pendek saya menduga daerah stasiun kroya riskan bila terjadi bencana Tsunami karena air bah bisa merangsek jauh ke daratan, namun tentu saja saya dan semua orang tidak berharap hal itu terjadi.


Berikut daftar kereta yang melewati Stasiun Kroya:
  • Argo Wilis: ke Bandung dan Surabaya Gubeng
  • Turangga: ke Bandung dan Surabaya Gubeng
  • Purwojaya: ke Jakarta Gambir dan Cilacap
  • Lodaya: ke Bandung dan Solo Balapan
  • Fajar Utama YK: ke Jakarta Pasarsenen dan Yogyakarta
  • Senja Utama YK: ke Jakarta Pasar Senen
  • Mutiara Selatan: ke Bandung dan Surabaya Gubeng
  • Sawunggalih Utama: ke Jakarta Pasarsenen dan Kutoarjo
  • Bogowonto: ke Kutoarjo dan Jakarta Pasar Senen
  • Progo ke Yogyakarta Lempuyangan dan Jakarta Pasarsenen
  • Senja Bengawan: ke Jakarta Tanahabang dan Solo Jebres
  • Gaya Baru Malam Selatan: ke Jakarta Kota dan Surabaya Gubeng
  • Kutojaya Utara: ke Jakarta Tanahabang dan Kutoarjo
  • Logawa: ke Purwokerto dan Jember
  • Serayu: ke Jakarta Kota
  • Kahuripan: ke Padalarang dan Stasiun Kediri
  • Kutojaya Selatan: ke Bandung Kiaracondong dan Kutoarjo
  • Pasundan: ke Bandung Kiaracondong dan Surabaya Gubeng

Stasiun Kroya merupakan pertemuan  2 jalur yaitu jalur  utara menuju Cirebon dan jalur selatan yang menuju Bandung sehingga menjadikan Stasiun Kroya sebagai stasiun terpadat untuk wilayah DAOP V.

 
Empat tahun lalu (2007) merupakan persinggahan saya dengan stasiun Kroya untuk  yang pertama kalinya, menggunakan kereta Senja Utama dari Stasiun Bekasi dengan tujuan Stasiun Solo Balapan untuk mengeyam pendidikan S1 Teknik Sipil di Universitas Sebelas Maret. Sejak saat itulah ketika saya ingin pulang ke kota Bekasi selalu memprioritaskan menggunakan kereta, selain karena rindu akan bel stasiun Kroya yang khas juga dikarenakan bila naik kereta ekonomi Senja Bengawan dari stasiun Jebres Solo hanya merogoh kocek Rp. 37.000!, ini sangat cocok bagi dompet mahasiswa seperti saya, hehe.


Saya akan merindukan bel nada stasiun Kroya, dan akan menjadi sebuah potongan kenangan. 

Semoga stasiun Kroya tetap eksis dengan nadanya sehingga bisa menjadi bahan cerita untuk anak-anakku kelak...

Kroya Railway station

Lokomotif BB300 adalah lokomotif diesel tipe hidrolik yang dibeli dari pabrik Krupp (Jerman) dan mulai didinaskan pada tahun 1958. Lokomotif ini didatangkan oleh DKA (Djawatan Kereta Api) sebanyak 17 unit pada tahun 1958 dan 13 unit pada tahun 1959 untuk menggantikan peran lokomotif-lokomotif uap yang memiliki kecepatan maksimum 75 km/jam (seperti lokomotif uap B13, B51, BB10, C27). Lokomotif ini mampu beroperasi di jalan rel kategori kecil (tipe R25 atau R33).

BB300 merupakan salah satu perintis modernisasi lokomotif di Sumatra Utara dan Sumatra Barat, walaupun saat ini sudah tidak ada lagi BB300 yang beroperasi di kedua wilayah tersebut. Lokomotif ini digunakan untuk menarik gerbong barang atau kereta penumpang pada rute jarak pendek. Lokomotif BB300 tersebar di pulau Jawa dan  pernah beroperasi pada rute Merak – Rangkasbitung – Tanah Abang, Banjar – Maos – Kroya, Cilacap – Maos – Kroya, Banjar – Cijulang, Semarang Poncol – Demak – Blora – Cepu, Solo Purwosari – Wonogiri, Kutoarjo – Purworejo, Surabaya Kota – Malang – Blitar, Jember – Panarukan – Banyuwangi dan Yogyakarta – Magelang.

Secara umum, lokomotif BB300 memiliki bentuk yang klasik dan bahkan bentuk seperti ini masih dipergunakan untuk lokomotif kategori sedang di Eropa. Bentuk lokomotif BB300 yang persegi sederhana, dengan lampu bulat yang diapit dua penutup semboyan. Lokomotif ini hanya memiliki 1 kabin masinis. Untuk spesifikasi teknis mesin, motor dieselnya bertipe (MB) 820 B – Maybach Mercedes Benz, berat 36 ton, daya 680 HP (horse power) dan dapat mencapai kecepatan maksimum 75 km/jam serta menggunakan transmisi hidrolik Krupp 2 WZLI - 15. Pada tahun 1984, dilakukan repowering pada lokomotif BB300. Tujuan repowering adalah untuk mengembalikan kinerja lokomotif seperti kondisi awal/baru dan memperpanjang masa pakai lokomotif.

Lokomotif BB300 memiliki keunggulan dapat digunakan pada jalan rel yang tergenang oleh air. Keunggulan lokomotif diesel tipe hidrolik adalah menggunakan mesin diesel hidrolik yang menghubungkan transmisi gardan (mesinnya di atas roda) ke roda gigi (gear box). Ini berbeda dengan lokomotif diesel tipe elektrik yang menggunakan tenaga motor (motor traksinya berada didekat roda). Lokomotif diesel tipe elektrik jika melewati genangan air akan mudah korsleting dan bisa macet saat melintas di jalan rel yang terkena banjir.

Karena keterbatasan suku cadang dan usia yang semakin tua, saat ini lokomotif BB300 hanya difungsikan untuk dinas langsir di Manggarai, Bandung, Kutoarjo, Solo Balapan dan Cepu. Dari 30 unit lokomotif BB300,
saat ini hanya tersisa 6 unit lokomotif BB300 yang masih siap operasi yaitu
BB 300 01 (Manggarai), 
BB 300 06 (Kutoarjo), 
BB 300 13 (Solo), 
BB 300 16 (Kutoarjo),
img_0881
Eksisting Stasiun Kroya
Stasiun Kroya (+11m)  terletak di Jl. Stasiun, Kroya, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Stasiun ini terlihat dari jalan raya Cilacap - Buntu. Stasiun yang terletak di selatan Jawa ini menjadi pertemuan antara jalur KA dari arah Bandung - Tasikmalayadengan jalur KA dari Cirebon (Kejaksan) - Purwokerto. Hal ini mengakibatkan Stasiun Kroya memiliki tingkat lalu lintas terpadat di Daerah Operasi 5 Purwokerto, dan untuk mengakomodasinya, emplasemen stasiun ini dibuat sepanjang 600 m. Stasiun Kroya merupakan stasiun terbesar di wilayah Kab. Cilacap.
BB 300 24 (Cepu) dan 
BB 300 29 (Solo).