Rabu, 17 April 2013

Sejarah kereta api Indonesia (1)

Dunia perkeretaapian di Indonesia sebenarnya sudah berjaya semenjak jaman penjajahan Belanda dahulu. Sampai sekarang, ada beberapa yang masih beroperasi sebagai jalur transportasi publik, angkutan barang, hanya sebagai kereta wisata, atau bahkan dijadikan sebagai museum kereta api. Yang menyedihkan, malah ada beberapa yang sudah tidak terawat, tidak dilestarikan dan punah. Berikut Sharing di Sini Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia.
1. Stasiun Semarang Gudang / Tambaksari (1864)
st tambaksari 15 Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia    sharing di sini berbagi ide, cerita, pengalaman, dan ilmu
Stasiun Gudang Tambak Sari Semarang Tempo Doeloe
Stasiun ini dibangun pada tanggal 16 Juni 1864 yang diresmikan oleh Gubernur Jenderal Baron Sloet van de Beele. Untuk pengoperasian rute ini, pemerintah Belanda menunjuk Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), salah satu markas NIS yang sekarang dikenal sebagai Gedung Lawang Sewu. Dan tepatnya pada 10 Agustus 1867 sebuah kereta meluncur untuk pertama kalinya di stasiun ini.
2. Stasiun Semarang Tawang (1868)
st tawang 15 Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia    sharing di sini berbagi ide, cerita, pengalaman, dan ilmu
Stasiun Semarang Tawang Tempoe Doeloe
Stasiun Semarang Tawang (kode SMT) adalah stasiun induk di Tanjung Mas, Semarang Utara, Semarang yang melayani kereta api eksekutif dan bisnis. Kereta api ekonomi tidak singgah di stasiun ini. Stasiun ini merupakan stasiun kereta api besar tertua di Indonesia setelah Semarang Gudang dan diresmikan pada tanggal 19 Juli 1868 untuk jalur Semarang Tawang ke Tanggung. Jalur ini menggunakan lebar 1435 mm. Pada tahun 1873 jalur ini diperpanjang hingga Stasiun Solo Balapan dan melanjut hingga Stasiun Lempuyangan di Yogyakarta.
3. Stasiun Lempuyangan Yogyakarta (1872)
lempuyangan 15 Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia    sharing di sini berbagi ide, cerita, pengalaman, dan ilmu
Stasiun Yogyakarta Lempuyangan tempoe Doeloe
Stasiun Lempuyangan (kode LPN, +114 m) adalah stasiun kereta api yang terletak di Kota Yogyakarta, berjarak sekitar 1 km di sebelah timur dari stasiun utama di kota ini, yaitu Stasiun Yogyakarta. Stasiun yang didirikan pada tanggal 2 Maret 1872 ini melayani pemberhentian semua KA ekonomi yang melintasi Yogyakarta. Stasiun Lempuyangan beserta dengan rel yang membujur dari barat ke timur merupakan perbatasan antara Kecamatan Gondokusuman di utara dan Danurejan di selatan.
4. Stasiun  Buitenzorg /Bogor (1872)
bogor st 15 Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia    sharing di sini berbagi ide, cerita, pengalaman, dan ilmu
Stasiun Bogor Tempoe Doeloe
Stasiun Bogor dibangun oleh perusahaan kereta api milik Pemerintah Belanda 1872 sebagai stasiun terakhir untuk jalur Batavia-Buitenzorg (Jakarta-Bogor) dan mulai dibuka pada 1873. Pembukaan jalur ini untuk mempersingkat perjalanan Batavia-Buitenzorg (Jakarta-Bogor) yang saat itu masih menggunakan kereta kuda untuk melayani penumpang. Semakin meningkatnya jumlah penumpang yang hilir-mudik Bogor-Jakarta (Jakarta-Bogor) maupun sebaliknya diperlukan ruang-ruang lebih besar agar bisa menampung banyak orang. Pada 1881 dibangun stasiun baru. Salah satu ruangan di stasiun ini terdapat prasasti yang didirikan pada 1881. Prasasti itu terbuat dari marmer sebagai persembahan karyawan sebagai ucapan selamat pagi terhadap D Marschalk yang memasuki masa pensiun atas jasanya mengembangkan perkeretaapian di Pulau Jawa.  Arsitekturnya pun bergaya Eropa dan berlantai dua dengan hiasan berbagai motif. Seperti geometrik awan, kaki-kaki singa dan relung-relung bagian lantai. Sampai saat ini, Kusen pintu masuk dan jendelanya masih dalam kondisi utuh dengan gaya khas. Lapangan yang ada didepannya yang konon bernama Wilhemina Park. Bangunan itu sendiri luasnya kurang lebih 5.955 m2 yang dibangun di areal lahan seluas 43.267 m2 lokasi tepatnya di Jalan Nyi Raja Permas Kelurahan Cibogor Kecamatan Bogor Tengah.
5. Stasiun Ambarawa (1873)
ambarawa 15 Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia    sharing di sini berbagi ide, cerita, pengalaman, dan ilmu
Stasiun Ambarawa Tempoe Doeloe
Museum Kereta Api Ambarawa adalah sebuah stasiun kereta api yang sekarang dialihfungsikan menjadi sebuah museum di Ambarawa, Jawa Tengah, yang memiliki kelengkapan kereta api yang pernah berjaya pada zamannya. Salah satu kereta api uap dengan lokomotif nomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslingen sampai sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata. Kereta api uap bergerigi ini sangat unik dan merupakan salah satu dari tiga yang masih tersisa di dunia. Dua di antaranya ada di Swiss dan India. Selain koleksi-koleksi unik tadi, masih dapat disaksikan berbagai macam jenis lokomotif uap dari seri B, C, D hingga jenis CC yang paling besar (CC 5029, Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik) di halaman museum.
6. Stasiun Kedungjati (1873)
kedungjati 15 Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia    sharing di sini berbagi ide, cerita, pengalaman, dan ilmu
Stasiun Kedungjati Tempoe Doeloe
Stasiun Kedungjati (KEJ) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Kedungjati, Kedungjati, Grobogan. Stasiun yang terletak pada ketinggian +36 m dpl ini berada di Daerah Operasi 4 Semarang. Stasiun Kedungjati diresmikan pada bulan 21 Mei 1873. Arsitektur stasiun ini serupa dengan Stasiun Willem I di Ambarawa, bahkan dulu beroperasi jalur KA dari Kedungjati ke Ambarawa, yang sudah tidak beroperasi pada tahun 1976. Pada tahun 1907, Stasiun Kedungjati yang tadinya dibangun dari kayu diubah ke bata berplester dengan peron berkonstruksi baja dengan atap dari seng setinggi 14,65 cm.
7. Stasiun Solo Balapan (1873)
solo balapan 15 Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia    sharing di sini berbagi ide, cerita, pengalaman, dan ilmu
Stasiun Solo Balapan Tempoe Doeloe
Stasiun Solo Balapan (kode: SLO, +93 m) adalah stasiun induk di Kestalan dan Gilingan, Banjarsari, Surakarta yang menghubungkan Kota Bandung, Jakarta, Surabaya, serta Semarang. Stasiun ini didirikan oleh jaringan kereta api masa kolonial NIS pada abad ke-19 (tepatnya 1873).
8. Stasiun Tuntang (1873)
tuntang 15 Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia    sharing di sini berbagi ide, cerita, pengalaman, dan ilmu
Stasiun Tuntang Tempoe Doeloe
tuntang salatiga 15 Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia    sharing di sini berbagi ide, cerita, pengalaman, dan ilmu
Stasiun Tuntang Kini
Stasiun Tuntang mulai beropersi 21 Mei 1873. Stasiun Tuntang merupakan stasiun kereta api yang terletak di Tuntang, Semarang. Stasiun Tuntang adalah bagian dari jaringan Ambarawa-Tuntang-Bringin-Kedungjati.  Mungkin sebagai pengumpan untuk rute Semarang-Solo yang melewati Kedungjati.  Jalur rel Semarang-Solo dibangun tidak hanya untuk kepentingan ekomomis (perkebunan dan kehutanan) tetapi juga militer. Itu sebabnya Kedungjati, yang di tengah hutan, lebih hidup ketimbang Tuntang yang di tepi jalan raya Semarang-Salatiga-Solo. Stasiun Tuntang dulu merupakan stasiun kelas III di jalur ini. Namun sejak jalur yang menghubungkan Yogyakararta dan Kedungjati ini, stasiun ini dijadikan museum. Stasiun ini waktu baru ditutup sempat melayani kereta wisata Ambarawa-Tuntang namun itu tak berlangsung lama karena rel yang sudah rusak. Sejak itu stasiun ini hanya melayani lori Ambarawa-Tuntang. Namun pada tahun 2009 dimulailah renovasi dan stasiun ini melayani kereta uap wisata lagi. Direncanakan jalur menuju Stasiun Kedungjati dihidupkan lagi.
9. Stasiun Aceh Tramp (1874)
sceh tramp 15 Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia    sharing di sini berbagi ide, cerita, pengalaman, dan ilmu
Stasiun Aceh Tramp Tempoe Doeloe
Station van de Atjehtram te Oeleëlheuë bij Koetaradja. (Stasiun tram dari Aceh ke Oeleëlheuë di Koetaradja)
Kereta api Aceh, zaman dulu disebut Atjeh Tramp, lebih dimaksud sebagai sarana komuter (transportasi) masyarakat kota yang mempunyai mobilitas tinggi berpindah antar kota, jarak-dekat. Sejarah Atjeh Tram di mulai apda 26 Juni 1874 Gubernur Aceh dan daerah taklukannya memerintahkan untuk menghubungkan tempat demarkasi pelabuhan Ulee Lheue dan Kutaraja dengan rel kereta api sepanjang 5 km dengan lebar spoor (rel) 1,067 m. Namun, sayanganya pada tahun 1982 Banda Aceh resmi sudah tidak memilik jalur perhubungan kereta api lagi. Hal ini dikarenakan tidak mampu bersaing dengan sarana transportasi jalan raya yang sudah semakin baik dan onderdil yang semakin sulit dicari.
10. Stasion Purwosari (1875)
purwosari 15 Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia    sharing di sini berbagi ide, cerita, pengalaman, dan ilmu
Stasiun Purwosari Tempoe Doeloe
Stasiun Purwosari (PWS) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Jl. Slamet Riyadi No. 502, Purwosari, Lawiyan, Surakarta. Stasiun yang terletak pada ketinggian +98 m dpl ini berada di Daerah Operasi 6 Yogyakarta. Stasiun Purwosari dibangun pada tahun 1875, dan merupakan stasiun tertua di Surakarta. Pembangunannya ditangani oleh NIS. Stasiun Purwosari berada di wilayah Mangkunegaran.
11. Stasiun Surabaya Kota / Semut (1878)
surabaya 15 Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia    sharing di sini berbagi ide, cerita, pengalaman, dan ilmu
Stasiun Surabaya / Semut Tempoe Doeloe
Stasiun Surabaya Kota (SB) yang populer dengan nama Stasiun Semut terletak di Bongkaran, Pabean Cantikan, Surabaya. Letaknya sebelah utara Stasiun Surabaya Gubeng dan juga merupakan stasiun tujuan terakhir di kota Surabaya dari jalur kereta api selatan pulau Jawa yang menghubungkan Surabaya dengan Yogyakarta dan Bandung serta Jakarta.
Berdasarkan sejarahnya, Stasiun Surabaya Kota dibangun ketika jalur kereta api Surabaya-Malang dan Pasuruan mulai dirintis sekitar tahun 1870. Tujuannya untuk mengangkut hasil bumi dan perkebunan dari daerah pedalaman Jawa Timur, khususnya dari Malang, ke Pelabuhan Tanjung Perak yang juga mulai dibangun sekitar tahun itu. Gedung ini diresmikan pada tanggal 16 Mei 1878. Dengan meningkatnya penggunaan kereta api, pada tanggal 11 Nopember 1911, bangunan stasiun ini mengalami perluasan hingga ke bentuknya yang sekarang ini.
12. Stasiun Malang Kotalama (1879)
malang kotalama 15 Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia    sharing di sini berbagi ide, cerita, pengalaman, dan ilmu
Stasiun Malang Kotalama Tempoe Doeloe
Stasiun Malang Kotalama (MLK) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Kecamatan Sukun, Malang. Stasiun yang berada pada ketinggian +429 m dpl ini berada di Daerah Operasi 8 Surabaya. Stasiun ini merupakan stasiun KA paling selatan yang berada di Kota Malang, dan tertua, dibangun pada tahun 1879. Penambahan nama “Kotalama” dimaksudkan untuk membedakan dengan Stasiun Malang Kotabaru yang dibangun belakangan. Dari Stasiun Malang Kotalama juga terdapat percabangan rel yang menuju ke Dipo Pertamina.
13. Stasiun Ijo (1880)
stasin ijo 15 Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia    sharing di sini berbagi ide, cerita, pengalaman, dan ilmu
Stasin Ijo Tempoe Doeloe
Stasiun Ijo (IJ) adalah stasiun kereta api yang terletak di sebelah barat Stasiun Gombong. Secara administratif, stasiun ini berada di Desa Bumiagung, Kecamatan Rowokele, Kabupaten Kebumen. Selain sebagai stasiun persilangan, fungsi lainnya adalah sebagai pengontrol terowongan jalur rel (disebut Terowongan Ijo) yang berada di sisi timur stasiun ini. Pengelolaan stasiun yang terletak pada ketinggian +25 m dpl ini berada di bawah Daerah Operasi 5 Purwokerto. Stasiun yang dibangun pada pertengahan tahun 1880-an ini jarang disinggahi oleh kereta api. Stasiun berperon sisi ini memiliki tiga jalur rel.
14. Stasiun Jember (1897)
jember 15 Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia    sharing di sini berbagi ide, cerita, pengalaman, dan ilmu
Stasiun Jember Tempoe Doeloe
Stasiun Jember (+89m dpl) adalah salah satu stasiun kereta api penting dalam lintasan sejarah perkerataapian di Indonesia. Stasiun ini dibangun pada tahun 1897 oleh Staats Spoorwegen (SS), salah satu perusahaan kereta api di zaman pemerintahan Hindia Belanda, untuk melayani kebutuhan transportasi hasil bumi di wilayah Jember dan sekitarnya. Pada masa itu, Komoditas perkebunan seperti gula, karet dan tembakau diangkut dari Stasiun Jember menuju Pelabuhan Panarukan di wilayah Situbondo untuk selanjutnya diangkut dengan kapal api menuju Kota Rotterdam di Belanda.  Saat ini, Stasiun Jember yang terletak di Jl. Dahlia No. 2, Jemberlor, Patrang, Jember, menjadi stasiun penting di wilayah Jawa Timur karena menjadi pusat kegiatan PT. Kereta Api Indonesia Daerah Operasi (Daop) 9 yang mengatur stasiun dan perjalanan kereta api dari Stasiun Bangil di wilayah Pasuruan (ujung barat) hingga Stasiun Banyuwangi (ujung timur).
15. Stasiun Klaten (1903)
klaten 15 Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia    sharing di sini berbagi ide, cerita, pengalaman, dan ilmu
Stasiun Klaten Tempoe Doeloe
Tahun 1903 stasiun Klaten mulai dioperasikan NIS (Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda), Jawa Tengah. Stasiun Klaten (KT) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Tonggalan, Klaten Tengah, Klaten. Stasiun yang terletak pada ketinggian +151 m dpl ini terletak di Daerah Operasi 6 Yogyakarta. Stasiun ini terletak dekat jalan by-pass yang melingkari Klaten dan memiliki 6 jalur KA.


@ main archives : javanesche spoorwegen observeur

Keywords:

  • sejarah stasiun bogor
  • sejarah stasiun tuntang
  • mitos stasiun poncol
  • nama nama stasiun kereta api di aceh
  • nama-nama stasiun kolonial di indonesia
  • nis pada perkeretaapian di semarang
  • pelabuhan di situbondo kaita dengan kereta api situbondo
  • peta jalur kereta api jawa jaman dulu
  • rel kereta api jaman dahulu
  • www trowongan rel tuntang

Rabu, 06 Februari 2013

Kereta api sudah menjadi salah satu sarana transportasi yang vital bagi masyarakat baik untuk penghubung antar kota maupun dalam kota. Dalam hal ini, Stasiun Kereta Api memiliki peran yang tak kalah penting dari fungsi kereta api itu sendiri. Fungsi Stasiun Kereta Api tidak hanya sebagai halte pemberhentian belaka melainkan sebagai fasilitas 'transit' atau tempat kegiatan datang dan pergi para penumpang, sehingga bangunan stasiun menjadi sarana penting pada setiap kota yang dilalui perjalanan kereta api.
Banyaknya kota-kota di Indonesia yang dilalui jalur kereta api diikuti pula dengan pembangunan stasiun-stasiun dengan rancangan arsitektur yang menunjukkan berbagai era sejak jaman pemerintah Hindia Belanda hingga saat ini. Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, bangunan stasiun kereta api menjadi salah satu fasilitas publik dan aset bangsa yang perlu dijaga dan dilestarikan.
 Ikon Daerah Operasi / Divisi Regional Deskripsi Nama Stasiun Heritage
Daerah Operasional 1 Jakarta Daerah Operasi 1 Jakarta merupakan Daerah Operasi dengan wilayah yang terbentang dari stasiun Merak (barat) di Provinsi Banten sampai dengan Stasiun Cikampek (timur) dan stasiun Sukabumi (selatan) di Provinsi Jawa Barat melintasi stasiun–stasiun di wilayah Provinsi DKI Jakarta Jakarta Kota, Tanjung Priuk, Pasar Senen, Jatinegara, Bogor, Serang, Rangkasbitung, Sukabumi, Depok Baru, Depok Lama, Pondok Cina, Citayam, Bojonggede, Cilebut, Lenteng Agung, Tanjung Barat, Pasar Minggu, Duren Kalibata, Pasar Minggu, Duren Kalibata, Manggarai, Tanah Abang, Gambir, Tangerang, Duri, Angke, Rawa Buaya, Poris, Sudimara, Serpong, Cisauk, Parungpanjang
st_bandung_icon Daerah Operasional 2 Bandung Daerah Operasi 2 Bandung merupakan Daerah Operasi dengan wilayah yang terbentang dari stasiun Cibungur (utara)  sampai dengan Stasiun Cipari (timur) dan stasiun Ranji (barat) melintasi stasiun–stasiun di wilayah Provinsi Jawa Barat bagian selatan Bandung, Cibatu, Banjar, Lampegan, Padalarang
Daerah Operasional 3 Cirebon Daerah Operasi 3 Cirebon merupakan Daerah Operasi dengan wilayah yang terbentang dari stasiun Tanjungrasa (barat)  sampai dengan stasiun Brebes (timur) dan stasiun Songgom (selatan) di Provinsi Jawa Tengah melintasi stasiun–stasiun di wilayah Provinsi Jawa Barat bagian utara Cirebon, Jatibarang
Daerah Operasional 4 Semarang Daerah Operasi 4 Semarang merupakan Daerah Operasi dengan wilayah yang terbentang dari stasiun Tegal (barat) sampai dengan stasiun Kalitidu (timur) di Provinsi Jawa Timur dan stasiun Gundih (selatan) melintasi stasiun–stasiun di wilayah Provinsi Jawa Tengah bagian utara Semarang Tawang, Semarang Poncol, Ambarawa, Pekalongan, Tanggung, Kedung Jati, Lasem, Tegal, Gundih, Brumbung
Daerah Operasional 5 Purwokerto Daerah Operasi 5 Purwokerto merupakan Daerah Operasi dengan wilayah yang terbentang dari stasiun Prupuk (utara) sampai dengan stasiun Purworejo (timur), stasiun Sidareja (barat) dan stasiun Cilacap (selatan) melintasi stasiun–stasiun di wilayah Provinsi Jawa Tengah bagian selatan Cilacap, Purworejo, Purwokerto, Kroya
Daerah Operasional 6 Yogyakarta Daerah Operasi 6 Yogyakarta merupakan Daerah Operasi dengan wilayah yang terbentang dari stasiun Montelan (barat) sampai dengan stasiun Kedungbanteng (timur) di Provinsi Jawa Timur, stasiun Monggot (utara) dan stasiun Wonogiri (selatan) melintasi stasiun–stasiun di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Yogyakarta, Solo Balapan, Solo Jebres, Maguwo, Lempuyangan
Daerah Operasional 7 Madiun Daerah Operasi 7 Madiun merupakan Daerah Operasi dengan wilayah yang terbentang dari stasiun Walikukun (barat) sampai dengan stasiun Curahmalang (timur) dan stasiun Rejotangan (selatan) melintasi stasiun–stasiun di wilayah Provinsi Jawa Timur bagian selatan Madiun, Kertosono, Tulung Agung
Daerah Operasional 8 Surabaya Daerah Operasi 8 Surabaya merupakan Daerah Operasi dengan wilayah yang terbentang dari stasiun Bojonegoro (utara) sampai dengan stasiun Blitar (selatan) dan stasiun Mojokerto (barat) melintasi stasiun–stasiun di wilayah Provinsi Jawa Timur bagian utara Surabaya Gubeng, Malang Kota Lama, Blitar, Bangil
Daerah Operasional 9 Jember Daerah Operasi 9 Jember merupakan Daerah Operasi dengan wilayah yang terbentang dari stasiun Bangil (barat) sampai dengan stasiun Banyuwangi (timur) melintasi stasiun–stasiun di wilayah Provinsi Jawa Timur bagian timur Jember, Banyuwangi, Pasuruan, Probolinggo

Singgah di Stasiun Kroya kita akan disuguhkan bel stasiun yang berbunyi tak lazim, berbeda dari stasiun-stasiun pada umumnya. Apalagi didengarkan ketika malam hari, entah seperti ada suasana mistis yang membuat bulu kuduk bergidik namun bukan rasa takut yang muncul melainkan suasana melankolis yang bisa membuat kita rindu untuk kembali singgah di stasiun ini.

Inilah Stasiun kroya, Stasiun yang berada di selatan Jawa Tengah tepatnya di Kabupaten Cilacap,  dibangun pada zaman belanda pada abad ke-19. Stasiun Kroya berada pada wilayah daerah Operasi V Purwokerto.


Stasiun Kroya berada di dataran rendah dengan ketinggian elevasi hanya 11m diatas permukaan laut (atau biasa disingkat mdpl). saya awalnya tidak sadar dan menganggap stasiun Kroya berada tidak jauh dari bibir pantai namun ternyata setelah melihat di Peta Google Earth jarak dari stasiun ke bibir pantai sejauh 7,5 km, bila dibandingkan dengan daerah lain seperti kota Probolinggo, jarak 7,5km dari bibir pantai sudah mencapai elevasi >20mdpl. Dengan analisis kasar dan pendek saya menduga daerah stasiun kroya riskan bila terjadi bencana Tsunami karena air bah bisa merangsek jauh ke daratan, namun tentu saja saya dan semua orang tidak berharap hal itu terjadi.


Berikut daftar kereta yang melewati Stasiun Kroya:
  • Argo Wilis: ke Bandung dan Surabaya Gubeng
  • Turangga: ke Bandung dan Surabaya Gubeng
  • Purwojaya: ke Jakarta Gambir dan Cilacap
  • Lodaya: ke Bandung dan Solo Balapan
  • Fajar Utama YK: ke Jakarta Pasarsenen dan Yogyakarta
  • Senja Utama YK: ke Jakarta Pasar Senen
  • Mutiara Selatan: ke Bandung dan Surabaya Gubeng
  • Sawunggalih Utama: ke Jakarta Pasarsenen dan Kutoarjo
  • Bogowonto: ke Kutoarjo dan Jakarta Pasar Senen
  • Progo ke Yogyakarta Lempuyangan dan Jakarta Pasarsenen
  • Senja Bengawan: ke Jakarta Tanahabang dan Solo Jebres
  • Gaya Baru Malam Selatan: ke Jakarta Kota dan Surabaya Gubeng
  • Kutojaya Utara: ke Jakarta Tanahabang dan Kutoarjo
  • Logawa: ke Purwokerto dan Jember
  • Serayu: ke Jakarta Kota
  • Kahuripan: ke Padalarang dan Stasiun Kediri
  • Kutojaya Selatan: ke Bandung Kiaracondong dan Kutoarjo
  • Pasundan: ke Bandung Kiaracondong dan Surabaya Gubeng

Stasiun Kroya merupakan pertemuan  2 jalur yaitu jalur  utara menuju Cirebon dan jalur selatan yang menuju Bandung sehingga menjadikan Stasiun Kroya sebagai stasiun terpadat untuk wilayah DAOP V.

 
Empat tahun lalu (2007) merupakan persinggahan saya dengan stasiun Kroya untuk  yang pertama kalinya, menggunakan kereta Senja Utama dari Stasiun Bekasi dengan tujuan Stasiun Solo Balapan untuk mengeyam pendidikan S1 Teknik Sipil di Universitas Sebelas Maret. Sejak saat itulah ketika saya ingin pulang ke kota Bekasi selalu memprioritaskan menggunakan kereta, selain karena rindu akan bel stasiun Kroya yang khas juga dikarenakan bila naik kereta ekonomi Senja Bengawan dari stasiun Jebres Solo hanya merogoh kocek Rp. 37.000!, ini sangat cocok bagi dompet mahasiswa seperti saya, hehe.


Saya akan merindukan bel nada stasiun Kroya, dan akan menjadi sebuah potongan kenangan. 

Semoga stasiun Kroya tetap eksis dengan nadanya sehingga bisa menjadi bahan cerita untuk anak-anakku kelak...

Kroya Railway station

Lokomotif BB300 adalah lokomotif diesel tipe hidrolik yang dibeli dari pabrik Krupp (Jerman) dan mulai didinaskan pada tahun 1958. Lokomotif ini didatangkan oleh DKA (Djawatan Kereta Api) sebanyak 17 unit pada tahun 1958 dan 13 unit pada tahun 1959 untuk menggantikan peran lokomotif-lokomotif uap yang memiliki kecepatan maksimum 75 km/jam (seperti lokomotif uap B13, B51, BB10, C27). Lokomotif ini mampu beroperasi di jalan rel kategori kecil (tipe R25 atau R33).

BB300 merupakan salah satu perintis modernisasi lokomotif di Sumatra Utara dan Sumatra Barat, walaupun saat ini sudah tidak ada lagi BB300 yang beroperasi di kedua wilayah tersebut. Lokomotif ini digunakan untuk menarik gerbong barang atau kereta penumpang pada rute jarak pendek. Lokomotif BB300 tersebar di pulau Jawa dan  pernah beroperasi pada rute Merak – Rangkasbitung – Tanah Abang, Banjar – Maos – Kroya, Cilacap – Maos – Kroya, Banjar – Cijulang, Semarang Poncol – Demak – Blora – Cepu, Solo Purwosari – Wonogiri, Kutoarjo – Purworejo, Surabaya Kota – Malang – Blitar, Jember – Panarukan – Banyuwangi dan Yogyakarta – Magelang.

Secara umum, lokomotif BB300 memiliki bentuk yang klasik dan bahkan bentuk seperti ini masih dipergunakan untuk lokomotif kategori sedang di Eropa. Bentuk lokomotif BB300 yang persegi sederhana, dengan lampu bulat yang diapit dua penutup semboyan. Lokomotif ini hanya memiliki 1 kabin masinis. Untuk spesifikasi teknis mesin, motor dieselnya bertipe (MB) 820 B – Maybach Mercedes Benz, berat 36 ton, daya 680 HP (horse power) dan dapat mencapai kecepatan maksimum 75 km/jam serta menggunakan transmisi hidrolik Krupp 2 WZLI - 15. Pada tahun 1984, dilakukan repowering pada lokomotif BB300. Tujuan repowering adalah untuk mengembalikan kinerja lokomotif seperti kondisi awal/baru dan memperpanjang masa pakai lokomotif.

Lokomotif BB300 memiliki keunggulan dapat digunakan pada jalan rel yang tergenang oleh air. Keunggulan lokomotif diesel tipe hidrolik adalah menggunakan mesin diesel hidrolik yang menghubungkan transmisi gardan (mesinnya di atas roda) ke roda gigi (gear box). Ini berbeda dengan lokomotif diesel tipe elektrik yang menggunakan tenaga motor (motor traksinya berada didekat roda). Lokomotif diesel tipe elektrik jika melewati genangan air akan mudah korsleting dan bisa macet saat melintas di jalan rel yang terkena banjir.

Karena keterbatasan suku cadang dan usia yang semakin tua, saat ini lokomotif BB300 hanya difungsikan untuk dinas langsir di Manggarai, Bandung, Kutoarjo, Solo Balapan dan Cepu. Dari 30 unit lokomotif BB300,
saat ini hanya tersisa 6 unit lokomotif BB300 yang masih siap operasi yaitu
BB 300 01 (Manggarai), 
BB 300 06 (Kutoarjo), 
BB 300 13 (Solo), 
BB 300 16 (Kutoarjo),
img_0881
Eksisting Stasiun Kroya
Stasiun Kroya (+11m)  terletak di Jl. Stasiun, Kroya, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Stasiun ini terlihat dari jalan raya Cilacap - Buntu. Stasiun yang terletak di selatan Jawa ini menjadi pertemuan antara jalur KA dari arah Bandung - Tasikmalayadengan jalur KA dari Cirebon (Kejaksan) - Purwokerto. Hal ini mengakibatkan Stasiun Kroya memiliki tingkat lalu lintas terpadat di Daerah Operasi 5 Purwokerto, dan untuk mengakomodasinya, emplasemen stasiun ini dibuat sepanjang 600 m. Stasiun Kroya merupakan stasiun terbesar di wilayah Kab. Cilacap.
BB 300 24 (Cepu) dan 
BB 300 29 (Solo).

Rabu, 09 Januari 2013

Lokomotif Uap Indonesia bagian 1



Walaupun lokomotif uap CC10 sudah dapat memenuhi kebutuhan angkutan barang di jalur kereta api yang melalui pegunungan di Jawa Barat namun perusahaan kereta api Staats Spoorwegen (SS) masih membutuhkan lokomotif dengan daya yang lebih kuat dari lokomotif yang sudah ada dan mampu berbelok dengan mulus pada tikungan yang tajam pada jalur pegunungan di Jawa Barat. Tugas ini dipercayakan kepada lokomotif DD50, DD51 dan DD52. Lokomotif uap DD50, DD51 dan DD52 merupakan lokomotif tipe Mallet generasi ketiga, keempat dan kelima yang beroperasi di Indonesia. Ketiga seri lokomotif uap tersebut memiliki susunan roda 2-8-8-0.

Lokomotif DD50 memiliki berat 133 ton, panjang 20737 mm dan mampu melaju hingga kecepatan 40 km/jam. Lokomotif DD51 memiliki daya berat 137 ton, panjang 20737 mm dan mampu melaju hingga kecepatan 40 km/jam. Lokomotif DD52 memiliki daya 1850 HP (horse power), berat 136 ton, panjang 20792 mm dan mampu melaju hingga kecepatan 50 km/jam. Dengan spesifikasi teknis yang seperti itu maka lokomotif DD50, DD51 dan DD52 merupakan lokomotif uap terbesar yang pernah beroperasi di Indonesia.

Pada tahun 1916, SS memesan 8 unit lokomotif DD50 pabrik ALCO (American Locomotive Co, Amerika Serikat). Kemudian pada tahun 1919, SS kembali memesan 12 unit lokomotif DD51 ke pabrik ALCO dengan konstruksi yang sama dengan lokomotif DD50 namun dengan design teknis yang lebih baik. Lokomotif DD50 dan DD51 mampu melaju hingga kecepatan 40 km/jam. Pada tahun 1923, SS kembali memesan 10 unit lokomotif DD52 dengan konstruksi yang sama dengan lokomotif DD50/DD51 namun dengan kecepatan maksimum yang lebih tinggi yaitu 50 km/jam. Namun pemesanan lokomotif DD52 ini dilayangkan kepada 3 (tiga) pabrik lokomotif di Eropa (Hanomag/Jerman, Hartmann/Jerman and Werkspoor/Belanda).

Operasional Lokomotif seri DD ini hanya bertahan sampai dengan tahun 1974 dan tak ada satupun yang tersisa, seiring dengan penggantian penggunaan lokomotif uap dengan lokomotif diesel.

Sebagai bentuk penghargaan terhadap salah satu aset lokomotif uap yang memiliki keunikan ini maka lokomotif DD52 dijadikan sebagai salah satu icon pada welcome page dan home page serta animasi pada footer dari website indonesianheritagerailway.com. Animasi kereta api di welcome page menggunakan lokomotif uap DD52 dan kereta penumpang Djoko Kendil dengan alasan karena aset-aset tersebut memiliki makna keunikan, estetika dan kelangkaan yang memiliki kandungan nilai sejarah (heritage).

Lokomotif DD52 dan kereta Djoko Kendil merupakan salah satu aset yang sudah punah (lokomotif DD52) dan aset yang masih ada (Djoko Kendil). Gambar lokomotif uap DD52 sebagai penanda agar jangan sampai terulang kembali punahnya salah satu aset perkeretaapian Indonesia. Sedangkan kereta Djoko Kendil adalah aset kereta api yang berhasil dipertahankan dan masih ada hingga saat ini. Dua aset ini (lokomotif DD52 dan kereta Djoko Kendil) digabung dalam satu rangkaian kereta api sebagai simbolisasi semangat pelestarian dan konservasi aset tua kereta api.

Sementara pada home page dari website indonesianheritagerailway.com, gambar tampak depan dari lokomotif DD52 dan stasiun Tanggung dimaknai sebagai komitmen perusahaan terhadap pelestarian aset non-bangunan dan bangunan yang bernilai sejarah. Gambar stasiun Tanggung dipilih sebagai penanda salah satu stasiun yang menjadi saksi dibukanya jalur kereta api pertama di Indonesia yang menempuh rute Samarang – Tanggung (26 km) pada 10 Agustus 1867. Meski stasiun kecil, stasiun Tanggung bermakna besar dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia. Gambar lokomotif uap DD52 sebagai penanda agar jangan sampai terulang kembali punahnya salah satu aset heritage perkeretaapian Indonesia.

Javanesche Spoorwegen Observeur


Javanesche Spoorwegen Observeur


JSO_Indonesia Railways Analysis and Heritage 

Staatsspoorwegen Westerlijnen or JAVA RAILWAY OBSERVATIONS

Call Center JSO : 

- 085732940002 Surabaya 
- 085726288357 Kroya 
- 08986633835 Cilacap 
- 08562882357 Purwokerto